Jumat, 15 Desember 2017

KELAHIRAN YANG HARUS DITERIMA DENGAN RASA IKHLAS

BAGIAN 1




Saya dilahirkan bertepatan ketika Subuh tiba, sesaat setelah Azan Subuh berkumandang, saat melahirkan saya, ibu tidak didampingi bapak, karena saat itu ayah saya sedang dalam masa perawatan karena luka tembak saat menjalani tugas operasi di Timor Timur (saat ini sudah berubah nama menjadi Timor Leste) di bawah naungan Panji Kodam IV / Sriwijaya (saat ini menjadi Kodam II/Sriwijaya) , namun puji Syukur kepada Allah Azza wa Jalla, bapak saya masih bisa tertolong namun harus berkorban dengan merelakan sebelah hatinya yang hancur terkena serpihan pecahan granat, bapak saya dirawat di RST Gatot Subroto Jakarta. Saat itulah saya dilahirkan ke muka Bumi ini dengan keinginan mengibarkan bendera Agama, Negara dan Keluarga  ......  Yaa Allah SWT jadikan Firman MU sebagai pondasi hamba untuk menghiasi dunia ini dengan selalu mensucikan nama MU..sebagai mana dalam salah satu Firman MU..   

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. " (QS al-Mukminun : 12-14)     

Sedikit cerita dari ibu, saat dilahirkan saya masih dalam keadaan terbungkus, saat itu dokter Rumah Sakit mendapat kesulitan membuka selaput yang membungkus tubuh saya, menurut keterangan dari dokter yang ada saat itu, selaput pembungkus tubuh saya sangat kenyal dan sulit disobek dengan gunting dan pisau bedah, mereka takut sekali karena bila hai tersebut terjadi dengan waktu yang lama maka saya diperkirakan akan kehabisan oksigen, ALLAH SWT memang Maha Agung, saat itulah tanpa diduga muncul seorang kakek tua yang tidak dikenal oleh siapapun termasuk ibu saya sendiri, beliau mendekati ibu saya dan dokter seraya berkata "Bolehkah saya membantu??" karena memang saat itu tidak ada pilihan, maka mereka mengizinkannya, orang tua tersebut mengambil sebutir padi dari sakunya, kemudian dengan ujung padi yang tajam itulah selubung saya berhasil dibuka, ALHAMDULILLAH Puji Syukur kepada ALLAH SWT. Siapapun dirimu kakek saya mewakili seluruh keluarga saya mengucapkan TERIMA KASIH.                                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar