BAGIAN 4
Saat
menginjak kelas 4 SD saya mendapat kabar bahwa kakek meninggal dunia, sedari
kecil saya tinggal bersama kakek sampai umur 6 tahun, lalu dibawa orang tua ke
wilayah yang jauh dari rumah kakek, sekitar 7 jam perjalanan. Mendengar kakek
meninggal terasa sekali ada sesuatu yang hilang, kakeklah yang mencurahkan
kasih saying dengan kesederhanaan, saat meninggalpun saya belum bisa izin
bertakziah, ibu berangkat pulang ke rumah kakek, rencananya bapak dan saya akan
menyusul pada hari Sabtu dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai di Desa Way
Tuba bertepatan dengan 2 hari meninggalnya kakek, ada hikmah yang saya dapat
saat itu, sebelum kakek meninggal keluarga besar bersikeras untuk membawa kakek
ke Rumah Sakit, namun kakek selalu berkata ‘Rabu, Kamis,
Jumat’ .
Saat di Rumah sakit kakek meninggal di hari Jumat, keluarga baru menyadari kata-kata tersebut. Dan menurut cerita nenek saat menjelang meninggalnya kakek, beliau menanyakan saya, karena saat itu saya tidak ada maka keluarganya dikumpulkan, kakek meminta sebuah gelas lalu kakek memuntahkan cairan sebanyak setengah dari gelas tersebut dan meminta anak atau cucu ada yang meminumnya, namun keluarga besar tidak ada satupunyang meminumnya, kemudian kakek meninggal dunia dan air di dalam gelas itupun menguap perlahan-lahan lalu gelas tersebut bersih dankering seperti sedia kala.
Setelah berziarah ke makam kakek hari Minggu saya diantar pulang oleh Paman Sugeng karena bapak dan ibu sudah kembali menggunakan sepeda motor. Di Simpang Way Tuba kami naik bus Minanga, saya duduk di sebelah paman, baru 50 meter mobil berjalan tiba-tiba bus berhenti dan saya melihat seorang kakek membawa beras menggunakan plastic warna putih terawang, beras itu jelas terlihat, banyaknya sekitar 1,5 sampai 2 Kg, kakek itu menggunakan peci dan tidak menggunakan alas kaki, ia duduk di samping kiri bangku yang saya duduki dengan terpisah oleh paman. Saya berusaha mencuri pandang ke kakek tersebut, wajahnya mirip sekali dengan Almarhum kakek, sepanjang perjalanan sang kakek tidak pernah berbicara, ia duduk dengan tenang, saat kondrektur meminta ongkos sang kakek tersebut tidak dimintai ongkos, saya selalu memperhatikan kakek tersebut, sampailah di Simpang Bumi Jawa sang kakek turun 10 meter sebelum kami turun, lagi-lagi saya tidak melihat sang kondrektur mobil Minangameminta ongkos, saat turun saya bertanya kepada paman bahwa ada orang yang memiliki wajah mirip kakek, Paman setengah perhatian mendengarkannya karena saya masih kecil, jawaban yang saya ingat hanyalah sebuah kalimat “Tidak ada penumpang seorang kakek yang menaiki mobil yang kami naiki, dan bangku samping kiri kosong sampai dengan kami turun” ….
Kakek
… aku sayang kepadamu …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar