Senin, 18 Desember 2017

SAAT KELAS 4 SD KAKEK MENINGGAL DUNIA

BAGIAN 4



Saat menginjak kelas 4 SD saya mendapat kabar bahwa kakek meninggal dunia, sedari kecil saya tinggal bersama kakek sampai umur 6 tahun, lalu dibawa orang tua ke wilayah yang jauh dari rumah kakek, sekitar 7 jam perjalanan. Mendengar kakek meninggal terasa sekali ada sesuatu yang hilang, kakeklah yang mencurahkan kasih saying dengan kesederhanaan, saat meninggalpun saya belum bisa izin bertakziah, ibu berangkat pulang ke rumah kakek, rencananya bapak dan saya akan menyusul pada hari Sabtu dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai di Desa Way Tuba bertepatan dengan 2 hari meninggalnya kakek, ada hikmah yang saya dapat saat itu, sebelum kakek meninggal keluarga besar bersikeras untuk membawa kakek ke Rumah Sakit, namun kakek selalu berkata ‘Rabu, Kamis, Jumat’ 

Saat  di Rumah sakit kakek meninggal di hari Jumat, keluarga baru menyadari kata-kata tersebut. Dan menurut cerita nenek saat menjelang meninggalnya kakek, beliau menanyakan saya, karena saat itu saya tidak ada maka keluarganya dikumpulkan, kakek meminta sebuah gelas lalu kakek memuntahkan cairan sebanyak setengah dari gelas tersebut dan meminta anak atau cucu ada yang meminumnya, namun keluarga besar tidak ada satupunyang meminumnya, kemudian kakek meninggal dunia dan air di dalam gelas itupun menguap perlahan-lahan lalu gelas tersebut bersih dankering seperti sedia kala. 

Setelah berziarah ke makam kakek hari Minggu saya diantar pulang oleh Paman Sugeng karena bapak dan ibu sudah kembali menggunakan sepeda motor. Di Simpang Way Tuba kami naik bus Minanga, saya duduk di sebelah paman, baru 50 meter mobil berjalan tiba-tiba bus berhenti dan saya melihat seorang kakek membawa beras menggunakan plastic warna putih terawang, beras itu jelas terlihat, banyaknya sekitar 1,5 sampai 2 Kg, kakek itu menggunakan peci dan tidak menggunakan alas kaki, ia duduk di samping kiri bangku yang saya duduki dengan terpisah oleh paman. Saya berusaha mencuri pandang ke kakek tersebut, wajahnya mirip sekali dengan Almarhum kakek, sepanjang perjalanan sang kakek tidak pernah berbicara, ia duduk dengan tenang, saat kondrektur meminta ongkos sang kakek tersebut tidak dimintai ongkos, saya selalu memperhatikan kakek tersebut, sampailah di Simpang Bumi Jawa sang kakek turun 10 meter sebelum kami turun, lagi-lagi saya tidak melihat sang kondrektur mobil Minangameminta ongkos, saat turun saya bertanya kepada paman bahwa ada orang yang memiliki wajah mirip kakek, Paman setengah perhatian mendengarkannya karena saya masih kecil, jawaban yang saya ingat hanyalah sebuah kalimat “Tidak ada penumpang seorang kakek yang menaiki mobil yang kami naiki, dan bangku samping kiri kosong sampai dengan kami turun” ….
Kakek … aku sayang kepadamu …
Alloohummaghfirlahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘anhu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri

Artinya:
Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar